Jumat, 08 Maret 2013

Masyarakat Hukum Adat Suku Sasak di Pulau Lombok

Oleh: Daud Azhari, SH.



a. Geografis dan Keadaan Tanah

Pulau Lombok adalah salah satu dari gugusan kepulauan Nusantara yang terletak di sebelah timur Pulau Bali dan sebelah barat Pulau Sumbawa. Di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa dan Samudara Hindia di sebelah selatan. Di pulau ini terdapat tiga kabupaten yakni, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kabupaten Lombok Timur, dan satu Kotamadya yaitu ; Kotamadya Mataram. Kota Mataram merupakan ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penduduk Pulau Lombok mayoritas Suku Sasak, di samping itu ada Suku Bali, Jawa, Sumbawa, Arab, dan Cina. Lapangan pekerjaan utama masyarakat Lombok adalah petani, nelayan, kerajinan tangan, pertukangan, dan jual-beli.
Sejarah pembentukan daerah ini tidak lepas dari politik dan system pemerintahan yang pernah ada. Pada tanggal 19 Agustus 1945 dua hari setelah proklamasi kemeerdekaan Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, Pulau Flores, Pulau Timor Rote, Pulau Sumba, dan Pulau Sawu digabung ke dalam Provinsi Sunda Kecil dengan ibukota di Singaraja Bali dan dipimpin oleh seorang Gubernur I Gusti Ketut Pudja. Pada tanggal 14 Agustus 1958 provinsi ini kemudian dipecah menjadi tiga provinsi yaitu, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selasa, 26 Februari 2013

RIWAYAT DATU PEJANGGIK (bagian 4 - HABIS)

RIWAYAT DATU PEJANGGIK (bagian 4)

Sebelumnya diceritakan tentang hulubalang dari Sekarbela, dan dumulainya tentang sejarah raja Sengkongo. 

“Dualat Tuanku, sesungguhnya itu bukanlah disebabkan oleh kekuatan kami. Tetapi disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri yang telah memerintahkan untuk membunuh ulama yang tak bersalah. Itu dihukum oleh dosanya sendiri. dan akhirnya juga dibunuh oleh dosanya sendiri.”
“Nah, diamlah kamu disini. Beristirahatlah sejenak.” Setelah mereka beristirahat lalu disuguhi dengan berbagai minuman seperti tuak dan berem, menurut kesengan mereka. Disamping itu juga disemblihkan babi, kambing dan ayam untuk suguhan. Hal itu semua mengakibatkan mereka tinggal tinggal di Mataram selama seminggu.
“Nah, sekarang kamu boleh kembali ke tempatmu masing-masing.”
Setelah 7 hari berlalu mereka kembali ke tempat masing-masing. Dan raja sanga t berkeinginan untuk berziarah ke Makam Loang Baloq dimana Gaos Abdul Razak dimakamkan.
“Nah, perintahkanlah seluruh rakyatku baik yang beragam hindhu maupun Islam untuk berkumpul, karena aku berniat untuk berziarah ke Makam Loang Baloq pada hari Rabu.”

Selasa, 19 Februari 2013

RIWAYAT DATU PEJANGGIK (bagian 3)

RIWAYAT DATU PEJANGGIK ( bagian 3)

Dalam kisah sebelumnya diceritakan tentang dua orang wali yang berlayar dari Kalimantan menuju pulau Lombok, mereka akhirnya sampai di sebuah daratan yang kini disebut dengan pantai Batu Layar.

Ampun tuanku menurut kata yang memerintahkan hamba untruk membunuh, adalah Anak Agung Triwangsa. Dan beliau akan membuatkan kami masjid besar. Nah, demikianlah Tuanku.”
Setealh itu semua yang bersalah semua dihukum mati. Selama itu rakyat selalu siap sedia dengan persenjataan. Gusti Ketut Gosha selalu mengamati gerak-gerik mereka. baik siang mauypun malam. Melihat mkedaan yang gawat itu Gusti Keetut Gosaha berangkat ke Mataram. Semua hulu balang yang berasal dari sekar bela  Timba Bengaq dikumpulkan di Mataram untuk mencegah kekacauan, sambil menanti keadaan aman kembali.